Senin, 10 Maret 2008

Bahaya Drugs/Narkoba

Metode Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA serta Dampak lainya bagi Remaja
Oleh Dra.Psi. Rivaizah Noor


A. PENDAHULUAN
Sebagian besar kasus penyalahgunaan NAPZA dimulai pada masa remaja, bahkan ada juga mereka yang mulai “berangkat remaja”, (Banjarmasin Post, 02 Oktober 2000) karena mental mereka masih sangat labil. Beberapa ciri perkembangan psikis dimasa remaja yang dapat mendorong seseorang untuk menyalahgunakan zat antara lain : krisis kepercayaan diri, ketidakmampuan mengelola masalah/stress yang dihadapi- cenderung terburu-buru dalam menyelesaikan masalah, mencoba-coba berpetualang untuk mendapatkan pengalaman baru dan depresi. Biasanya sebagai upaya untuk menyelesaikan masalahnya (menurut versi remaja) mereka mulai mencoba memakai NAPZA yang pada akhirnya akan menyebabkan ketergantungan.
Hasil pemantauan kasus penyalahgunaan narkoba pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan, selama tahun 1999 sampai maret 2001 terdapat 135 kasus pengguna narkoba.
Data lain juga menyebutkan bahwa untuk daerah Kalimantan Selatan penyalahgunaan NAPZA, khususnya dikalangan remaja menempati urutan ketiga di Indonesia (Kalimantan Post, 04 Agustus 2000). Ini merupakan kenyataan yang cukup mengejutkan dan tidak dapat dipungkiri bila kita hubungkan dengan Banjarmasin merupakan “kota seribu langgar” dan kota yang “agamis”. Apakah ini merupakan gejala dan dampak dari suatu masyarakat modern atau semacam pergeseran nilai. Bahkan dari perkembangan terakhir (Banjarmasin Post, 04 September 2001) untuk kasus ini daerah Kalimantan Selatan peringkatnya naik menjadi urutan kedua berdasarkan jumlah narkoba yang beredar (sebesar 4 kg).
Data tersebut diperkuat dengan hasil penelitian Dr.H.Yulizar Darwis, SP.KJ. bahwa 71 % pengguna NAPZA berusia antara 19-24 tahun (Kalimantan Post, 04 Agustus 2000). Disebutkan pula, selama tahun 1999 dari 63 pasien beliau berusia 16-25 tahun, sebagian besar mengaku mulai mengkonsumsi NAPZA sejak sejak sekolah dasar (Banjarmasin Post, 10 Agustus 2000). Sedangkan data dari YC-CMR PKBI dari tahun 1996-sampai sekarang tercatat 29 kasus NAPZA.
Dari berbagai penelitian juga membuktikan bahwa hampir 63,3% dari mereka yang terlibat perkelahian dan tindak kekerasan lain adalah penyalahgunaan zat psikoaktif. Karena penyalahgunaan zat ini dapat meningkatkan tingkah laku agresivitas baik fisik maupun psikis dari sipemakai (Mardiana, 1998).
Data-data diatas , sesungguhnya hanyalah sebagian kecil saja yang bisa terpantau oleh kita, karena kasus seperti ini sama seperti gunung es.
Secara umum penyalahgunaan NAPZA dikalangan remaja merupakan alat interaksi sosial agar diterima dilingkungan sebayanya. Hal ini sebagai wujud dari penentangan terhadap otoritas orang tua, kurang terjalinnya komunikasi antara anggota keluarga serta dalam rangka proses pencarian jati diri agar diakui sebagai individu yang sudah dewasa.
Oleh karena itu tidak adil apabila pendekatan terhadap seorang remaja yang sudah kecanduan obat dengan cara menuding dan menyalahkan remaja secara sepihak. Ada berbagai faktor yang saling mendukung hingga remaja sampai mengkonsumsi obat tersebut.
B. FAKTOR PENYEBAB
Banyak penyebab seorang remaja menyalahgunakan obat-obat terlarang. Kasus menyebutkan bahwa remaja yang mencoba menggunakan obat tersebut karena ditawari teman, mendapat tekanan dari teman sebaya atau ada juga untuk menghindari dan melupakan masalah, serta konflik yang meraka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
1. Faktor Individu/internal
v Gangguan kepribadian, misalnya : kesulitan dalam penyesuaian diri, krisis pede, kurang mampu mengekspresikan diri/mengungkapkan isi hati.
v Pendidikan dan penghayatan terhadap ajaran agama yang masih kurang
v Sebagai alat interaksi sosial agar diterima dalam kelompok
v Eksplorasi seksual
v Jarak antara anak yang terlalu dekat (di AS, kondisi ini bisa memicu orang untuk memakai NAPZA)
2. Faktor obat/zat
v Peredarannya semakin banyak
v Bentuk dan rasanya bervariasi
v Tersedianya tempat-tempat hiburan malam sebagai tempat peredaran gelap ekstasi/psikotropika
3. Faktor hubungan dalam keluarga.
Ketidak utuhan keluarga, kesibukan orangtua, dan hubungan anggota keluarga yang kurang harmonis, serta merasa tidak bahagia dengan lingkungan keluarga/ sekolah


4. Faktor pengaruh teman sebaya.
Pengalaman remaja berkonsultasi ke CMR menunjukan bahwa pengaruh teman sebaya terhadap penyalahgunaan NAPZA sangatlah besar. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Baron, dkk (Mardiana, 1998) bahwa teman merupakan alasan utama bagi pemakai pertama dari 50 % pemakai obat terlarang. Selain itu sebagai alat bagi remaja agar dianggap ngetrend, keren, biar pede, pengen bebas dari masalah.
5. Faktor lingkungan sosial.
Terbanyak pada mereka yang tinggal di daerah kumuh, padat, dan miskin, lingkungan pemakai.
Senada dengan pendapat Ensminger, dkk (dalam Dian.M.Marviana, 1998) menyimpulkan bahwa para remaja yang mempunyai ikatan sosial yang kuat denganrumah atau sekolah cenderung tidak menjadi pemakai zat psikoaktif dibandingkan dengan mereka yang ikatan keluarganya lemah; sementara ikatan yang kuat dengan teman sebaya punya kecenderungan penyalahgunaan zat psikoaktif.
Secara umum ada beberapa urutan tahapan penyalahgunaan NAPZA :
1. Resiko kecil
Pada anak atau remaja yang punya ciri-ciri sebagai berikut :
q Sehat fisik dan mental
q Kemampuan adaftasi sosial baik
q Jujur dan bertanggung jawab
q Punya cita-cita yang rasional
q Dapat mengisi waktu luang secara positif
2. Resiko besar (potensial user)
Pada anak dan remaja yang punya ciri-ciri :
q Punya sifat mudah kecewa dan mengatasinya cenderung agresif dan destruktif
q Keinginan harus segera dipenuhi,menuntut kepuasan segera
q Pembosan, sering merasa tertekan, murung, dan tidak sanggup berfungsi dalam hidup sehari-hari
q Suka mencari sensasi, melakukan hal-hal yang berbahaya
q Merasa kurang pede
q Hubungan dalam keluarga kurang, ada keluarga pemakai
q Berteman dengan alkoholik
q Kurang disiplin, dsb
3. Coba-coba
q Kontak pertama dengan obat sering terjadi diusia remaja
q Rasa ingin tahu / coba-coba (biasanya tidak dilanjutkan)
q Melanjutkan dengan obat dan cara yang canggih
4. Kadang-kadang (pemakaian reguler)
q Telah memulai tahap coba-coba
q Pemakaian obat terlarang sudah menjadi bagian hidup sehari-hari
q Jumlahnya terbatas sehingga tidak ada perubahan yang mendasar (mereka dapat sekolah dan bekerja seperti biasa)
5. Ketagihan
q Pemakaian sering
q Jenis dan dosis yang dipakai meningkat (termasuk pemakaian bahan yang beresiko tinggi)
q Ada gangguam fisik, mental, dan masalah sosial semakin jelas
6. Ketergantungan
q Bentuk ekstrim dari ketagihan
q Bentuk kegiatan selalu mengarah untuk mendapatkan obat dan mengalahkan aktivitas lain
q Kondisi fisik, mental terus menurun
q Kehilangan makna hidup
C. CIRI-CIRI PEMAKAI NAPZA :
q Mata tidak tahan sinar
q Jadi banyak bicara atau pendiam
q Labuh senang berada didalam kamar atau malah suka ngelayap
q Mudah tersinggung/cepat marah
q Teman-teman baru jadi banyak, teman lama ditinggalkan
q Wajah tidak cerah
q Di kamar, di mobil, sering ada sedotan, aluminium foil, korek api gas murahan (padahal ia tidak merorok), gulungan uang, botol alkohol yang ada sumbunya, serta kertas lipat bujur sangkar untuk membungkus putaw
q Rajin pakai kaus kaki atau kemeja lengan panjang




q Gampang takut atau marah
q Tidak doyan makan
q Betah tidak tidur
q Tadinya rapi, sekarang jadi cuek dan berantakan, dsb
D. AGAR TIDAK TERGODA :
q Berani untuk menolak teman yang mencoba untuk menawari
q Coba bilang dengan tegas :
Ø Tidak, sorry… saya tidak mau nyoba
Ø Tidak, sorry… saya sudah pernah lihat yang terjadi pada teman saya dan saya tidak mau terjadi pada diri saya
Ø Tidak, saya khan tidak pernah memaksa kamu untuk berhenti ngedrugs, jadi jangan paksa saya
q Pertebal ketahanan diri kita dengan iman dan taqwa
E. JANGAN PERCAYA KEPADA :
q Kalau nyoba sekali saja tidak apa-apa, Sebuah penelitian menemukan bahwa biarpun baru mencoba sekali, sistem dalam tubuh kita langsung membutuhkan (nyandu) obat tersebut
q Ada beberapa jenis zat yang tidak berbahaya. Kata dokter tidak ada satupun jenis drugs yang aman, semuanya berbahaya dan dapat merusak tubuh
q Drugs bisa bikin kita menikmati hidup
q Anggapan drugs bisa menyelesaikan masalah. Sebenarnya bukan demikian. Masalah akan selalu ada selama kita masih diberi Tuhan umur
F. NAPZA, SEKS DAN PERNIKAHAN DINI
Para pemakai NAPZA umumnya sulit melakukan pengendalian diri, dia dapat melakukan apa saja diluar kesadaran diri termasuk hubungan seks. Bagi remaja yang punya pasangan sebagai pengguna atau mantan perlu memperhatikan :
q Hati-hati agar kita jangan sampai terpengaruh
q Terima dia apa adanya
q Beri semangat untuk tidak mencoba lagi
q Beri perhatian, dengarkan keluhan dan alihkan perhatiannya dari obat-obatan
q Dalam keadaan tidak sadar, kalau dia mau macam-macam tolak secara halus
q Dan sebagainya
Bagi remaja yang tidak memiliki “kekuatan diri” bukan tidak mungkin bisa terjerumus untuk konsumsi NAPZA terlibat dalam hubungan seks pranikah dan akhirnya melakukan pernikahan dini. Padahal sebagai remaja secara mental belum siap dan belum mampu untuk memikul beban atau berperan sebagai orang tua.
G. UPAYA PENCEGAHAN :
Penyalahgunaan NAPZA akan berdampak pada aspek fisik, psikis, dan sosial. Dengan kata lain akan mempengaruhi pikiran dan perilaku seseorang, menjadi perilaku yang sulit dikontrol. Adapun upaya preventif dan edukasi antara lain :
a) Pemberian informasi dan pengetahuan yang tepat, dapat dipercaya dan obyektif/jelas dan mudah dimengerti tentang zat-zat tersebut serta pengaruhnya pada tubuh pemakai. Selain itu metode informasinya perlu disesuaikan dengan taraf perkembangan anak dan remaja. Untuk usia remaja misalnya, disamping pemberian informasi yang benar, perlu juga memberikan kesempatan untuk belajar mengambil keputusan dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya dan belajar mengatasi hambatan sereta tekanan-tekanan dengan melihat peluang lain secara kreatif.
b) Penanaman nilai-nilai agama, khususnya dalam lingkungan keluarga serta memberikan contoh/teladan pada anak yang dimulai dari orang tua.
c) Pengengembangan kepribadian dan afeksi, merupakan upaya untuk mengembangkan kepribadian, pendewasaan diri anak agar membuat keputusan secara benar, mengetahui cara mengatasi tekanan secara afektif, meningkatkan kepercayaan diri, meningkatkannketerampilan berkomunikasi serta mampu bersifat asertif. Kesemuanya tentu saja dibentuk dan dilatih melalui lingkungan keluarga yang harmonis, dengan menciptakan suasana yang konsisten dan kondisif terhadap pengembangan kepribadian anak setiap fase perkembangannya
d) Program teman sebaya, tujuannya mengembangkan kemampuan remaja untuk menolak serta kemampuan untuk melakukan sosialisasi dengan teman sebaya. Upaya ini dilakukan denga cara mendidik para remaja tentang bahaya NAPZA, bagaimana melakukan pendekatan pada temannya yang sudah menjadi korban serta pemberian informasi bagi mereka yang belum kena. Mereka yang telah dididik ini yang akan menyampaikan pada kawan sebayanya, mereka akan lebih terbuka dan tidak ada perasaan takut dan malu





e) Pendekatan out-reach- pendekatan ini memang masih belum popular. Cara ini terutama pada kelompok sasaran yang sulit untuk dijangkau secara formal, maka akan lebih baik bila dilakukan dengan cara informal. Bagi orang-orang yang beresiko tinggi akan sulit didekati secara formal.
Maka diperlukan orang yang khusus/terampil (misalnya pandai bergaul dengan mereka). Orang ini akan memperlakukan korban seperti temannya sendiri, sederajatdan menempatkan dirinya sebagai bagian dari korban (mampu berempati)
f) Meningkatkan peran serta orang tua dan guru, karena dengan komunikasi yang baik antara orang tua dan guru akan membantu anak dalam menyelesaikan masalahnya. Selain itu dapat membantu berkembangnya nilai dan sikap hidup yang positif bagi anak
H. UPAYA DIATAS AKAN DAPAT DIJALANKAN MELALUI JALUR :
q Keluarga, dengan sasaran anak/remaja atau anggota keluarga yang lain
q Sarana pendidikan, dengan sasaran anak dididik melalui ekstra kurikuler
q Lembaga keagamaan, dengan sasaran umat/remaja
q Organisasi masyarakat, dengan sasaran pemuda, wanita, dan masyarakat
q Media massa, dengan sasaran masyarakat luas

Dengan paparan yang saya sampaikan ini , semoga bermanfaat dan menjadi bahan acuan bagi remaja dalam membentengi diri dari bahaya NAPZA dan dampak lainnya yang setiap saat mengintai kehidupan remaja serta bisa merusak masa depan. Buat orang tua, mudah-mudahan bermanfaat sebagai tambahan referensi dalam melakukan tugas mulia pencetak generasi penerus yang berkualitas. Amin.


Banjarmasin, 14 Oktober 2002

Tidak ada komentar: