oleh Dra.Psi.Rivaizah Noor
Kota Banjarmasin saat ini , semakin berkembang dan ramai dengan berbagai fasilitas hiburan , tempat-tempat mejeng dan bersantai buat remaja juga banyak tersedia , pertokoan juga tumbuh dengan suburnya , fasilitas penginapan dari yang tanpa bintang sampai yang berbintang--- di sini juga ada ruang karaoke---bernyanyi sambil melepas lelah . Juga media informasi sudah semakin canggih dan transparan, sementara sebagian besar kedua orang tua bekerja , waktu untuk ngobrol dan bercanda ria sangat terbatas.
Remaja juga disibukkan dengan tugas-tugas pribadinya, Orang tua beranggapan kesibukannya selama ini sebenarnya untuk kebahagian anaknya kelak---agar semua fasilitas pendidikan terpenuhi . Tanpa melihat sisi lain --- psikologis perkembangan anaknya yang sudah beranjak remaja.
Dengan kondisi seperti ini kapan seorang remaja bisa bertanya atau mendiskusikan tentang apa arti perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada dirinya, menceritakan bahwa dia mulai tertarik dengan teman sekelasnya , atau menanyakan perilaku seksual yang dia baca , dengar, lihat di luar rumah . Kalaupun ada kesempatan untuk bertanya biasanya hanya dijawab ; saat ini kewajibanmu adalah belajar, jangan mikir dan tanya yang macam-macam, nanti kalau kamu sudah dewasa juga akan tahu jawabannya . Akhirnya seorang remaja akan mencari jawabnya di luar rumah, yang belum tentu informasi yang dia peroleh adalah benar dan mendidik.
Tidak dapat dipungkiri , sekarang ini persaingan mencari kerja semakin sulit – diperlukan keahlian dan keterampilan khusus . Untuk itu seorang remaja memerlukan waktu yang cukup panjang agar bisa bekerja. Sementara dalam rentang waktu yang cukup panjang ini , tentu saja banyak sekali pengalaman dan informasi yang remaja peroleh sebagai akibat kemajuan teknologi . Selain itu usia pubertas juga semakin dini , ternyata hal ini merupakan salah satu penyebab yang membawa remaja pada situasi problem seksual yang semakin rumit dan sangat memprihatinkan . Tidak mengherankan jika di Kodya Banjarmasin perilaku pacaran remaja sudah semakin permisive . Demikian pula di beberapa lokasi misalnya , sudah sering kita temukan adanya pekerja seks ABG.
Citra Mitra Remaja (CMR) adalah program Youth Center dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Kalimantan Selatan sejak tahun 1996--- emberionya tahun 1994—hingga sekarang menyediakan tempat bagi remaja untuk “curhat”berkonsultasi dan menyediakan informasi kesehatan reproduksi , ternyata mencatat bahwa dari tahun ketahun permasalahan seksualitas remaja cenderung meningkat dan semakin bervariasi . Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel I
Kasus Hubungan Seks Pra-Nikah
TAHUN JUMLAH KLIEN
1996 – 1998 6 ORANG
1999 – 2000 20 ORANG
JUMLAH 26 ORANG
KETERANGAN : Data ini diambil dari remaja yang berkonsultasi ke Youth Centre
Tabel II
Klasifikasi Kasus Prilaku Seks Remaja
JUMLAH KLIEN JENIS KASUS PEREMPUAN LAKI – LAKI
1. PETTING 2 ORANG
2. HUS PRA-NIKAH 2 ORANG 2 ORANG
3. HAMIL PRA-NIKAH 3 ORANG
4. HOMO SEKS 0 0RANG 5 ORANG
5. ABORSI 4 ORANG
KET : JUMLAH DAN JENIS INI DIAMBIL DARI JANUARI S/D APRIL 2000
Selain itu realitas perilaku pacaran remaja (yang datang konsultasi ke CMR) bisa kita cermati melalui kasus S , seorang remaja putri berusia 19 tahun . Dia datang beberapa kali seorang diri untuk berkonsultasi :
S (19 tahun) seorang remaja putri yang saat ini duduk di bangku kuliah semester III di salah satu Universitas yang ada di Banjarmasin . Dia hidup dalam keluarga yang utuh dan berkecukupan . Saudaranya banyak , tapi dia hanya akrab dengan saudara perempuannya yang saat ini telah menikah. Kedua orang tuanya berdagang, sesekali S juga bisa menggantikan orang tuanya . Kedua orang tuanya memberi kepercayaan penuh pada S . Semua keperluan S dari perlengkapan kuliah sampai pada masalah penampilan diri selalu dipenuhi kedua orang tuanya Pesan orang tuanya hanya satu pada S , kalau mau mencari pendamping jangan dengan orang yang bukan dari keturunannya.
Ternyata perasaan cinta itu tumbuhnya tidak bisa ditentukan, jadilah S pacaran dengan orang yang bukan keturunan dia . S pacaran sembunyi-sembunyi ---cowoknya tidak pernah diperkenalkan pada kedua orang tuanya, makin lama perasaan sayang itu semakin bertambah saja . Dan nampaknya pacarnya adalah orang yang baik, S mulai diperkenalkan pada kedua orang tua sicowok , orang tua si cowok senang saja. Cowoknya S ini adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu , dia termasuk dimanja dan sangat disayang oleh kedua orang tuanya . Apapun keinginannya selalu harus dipenuhi , kedua orang tuanya lebih banyak mengalah. Kedua orang tua cowok S ini berharap dia bisa berubah . Pacar S ini termasuk orang yang sangat pencemburu. Kemanapun S pergi harus bilang dengan pacarnya.
Masa pacaran mereka telah berusia satu tahun, pada waktu mereka jalan-jalan dengan mengendarai mobil, tiba –tiba sang pacar menyampaikan keinginannya untuk melakukan hubungan seks , sebagai bukti ketulusan cinta mereka . Menurut pacarnya jangan takut, tidak akan hamil kok karena saya akan mengeluarkannnya “di luar”. Aktivitas ini telah mereka lakukan beberapa kali . Sebenarnya ada dorongan S untuk tidak mau lagi lagi, karena ada perasaan takut dan bersalah. Tapi S tidak berdaya karena selalu diancam pacarnya , akan diceritakan pada orang lain bahkan dengan keluarganya . Setiap saya selesai melakukan itu, saya selalu sholat dan minta ampun”
Usia pacaran mereka menginjak dua tahun, waktu itu ada kejadian yang membuat pacarnya sangat marah dan cemburu pada S . S diperlakukan dengan kasar di rumah cowoknya , kedua orang tua pacarnya tidak berani untuk melerai karena pacarnya S sangat nekad sekali (waktu konsultasi S memperlihatkan bekas pukulan dari pacarnya) . S diseret masuk ke kamar, pada waktu itu dia dipaksa untuk melakukan hubungan seksual , lagi-lagi S tidak berdaya untuk menolak . Tidak seperti biasa “spermanya dikeluarkan di dalam” . Pada Waktu dia datang ke CMR kandungannya sudah berusia dua bulan dan dia ingin menggugurkannya.
(Ringkasan dari hasil konsultasi dengan S, pada tahun 1999).
Kasus di atas dapat memberikan gambaran bagi kita bahwa fenomena perilaku pacaran di kalangan remaja sudah sangat memperihatinkan . Belajar dari kasus S ternyata pemenuhan materi semata dan memberi kepercayaan penuh begitu saja tidak bisa menjamin . Tanpa memperhatikan pemenuhan kebutuhan psikologis dan informasi tentang seksualitas secara benar beserta resiko-resiko yang bisa ditimbulkannya.
Jika kita melihat kasus S, bagaimana mereka memaknai pacaran. Padahal tujuan pacaran diantaranya adalah mengenal lebih dekat pasangan kita, saling mengisi dan memberikan dorongan . Kesepakatan tentang perilaku seperti apa yang boleh mereka lakukan dan mana perilaku yang harus mereka hindari juga tidak dibuat, saling melindungi dan menghargai terhadap pasangan juga tidak ada . Bahkan S, dijadikan obyek kepuasan dari pacarnya . Pada posisi ini S tidak berdaya untuk menolak dan dikekang oleh pacarnya.
Seorang remaja seperti S dan pacarnya ini , mereka sama-sama mengenyam pendidikan tinggi kemudian bisa memutuskan untuk menodai cinta mereka dengan
melakukan hubungan seks yang masih belum waktunya mereka lakukan .
Hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor yang sangat kompleks dan dilematis , antara lain : komunikasi yang tersumbat dalam keluarga , kurangnya informasi tentang seksualitas dan pemaknaan dalan pacaran , pemberian kepercayaan yang mutlak pada anak tanpa dibarengi dengan kontrol , peluang dan kesempatan . Keadaan ini ditambah lagi dengan emosi yang belum matang, serta keterbatasan informasi yang berkaitan dengan pengetahuan seksualitas , persepsi cinta perempuan harus memberi masih melekat dalam diri S . Akhirnya menyebabkan S tidak berdaya untuk menolak dan mengambil keputusan yang tepat terhadap masalah yang berkaitan dengan seksualitas .
Kekerasan Dalam Pacaran
Secara sederhana , masa pacaran merupakan upaya saling mengenal diantara laki-laki dan perempuan sebelum keduanyaterikat dalam sebuah perkawinan . Masa ini dianggap masa yang paling indah dan mengasyikkan , sehingga sulit dipercaya bila ada orang mengatakan di dalam pacaran itu ada unsur kekerasannya . Kekerasan dalam pacaran biasanya bermula ketika salah satu pihak mulai memaksakan kehendaknya kepada pasangannya . Yang ada hanyalah menuntut melulu tanpa berusaha mendiskusikan persoalan , saling memahami kebutuhan / kehendak pasangan . Gaya pacaran seperti ini sering diwarnai dengan benterokan dan pertengkaran antara keduanya . Yang perlu diwaspadai, untuk memaksakan kehendaknya biasanya jurus yang dipakai adalah “cinta” , “sayang” , “setia” , dan sebagainya . Misal merayu , dan membuat janji-janji akan menikahi agar bisa melakukan hubungan seks
Setelah mereka melakukan hubungan seks , si laki-laki akan memperlakukan seenaknya., atau bila perempuannya hamil , laki-laki justru meninggalkannya. Pengalaman konseling di CMR , untuk kasus hubungan seks pra-nikah sampai pada kasus aborsi hampir semuanya hanya perempuannya yang datang untuk berkonsultasi. Sementara laki-lakinya tidak pernah mau tahu --- tidak bertanggung jawab.
Isu kekerasan dalam pacaran di kalangan remaja barangkali menjadi topik yang sangat penting untuk didiskusikan secara khusus. Beberapa kasus yang pernah ditangani oleh Citra Mitra Remaja (CMR) PKBI Daerah Kalimantan Selatan ,kekerasan dalam pacaran tidak jarang diawali dengan adanya proses ketidak berdayaan remaja putri untuk menolak ajakan dari pasangannya. Dia tidak berdaya untuk mengatakan tidak melakukan hubungan atau perilaku seksual. Lebih memprihatinkan lagi, yang menanggung resiko akibat perilaku seksual justru dari pihak remaja putrinya.
Ada beberapa mitos dalam pacaran yang sebagian remaja masih meyakininya sebagai suatu kebenaran :
1. Laki- laki memiliki dorongan seks yang lebih besar daripada perempuan , sehingga bisa dimaklumi kalau laki-laki bersifat agresif.
2. Perasaan cinta harus dibuktikan dengan relasi seksual.
3. Tidak mau diajak hubungan seks berarti akan kehilangan pacar.
4. Laki-laki yang mengajak hubungan seks adalah laki-laki yang akan menikahi.
5. Cinta memerlukan pengorbanan, terutama berkorban kehilangan keperawanan.
Faktor Penyebab
Dari berbagai hasil studi dan pendapat para ahli psikologi perkembangan , dapat disimpulkan bahwa masalah seksualitas pada remaja muncul karena :
1. Usia pubertas semakin dini ----karena kebutuhan akan gizi terpenuhi sehingga mempercepat pertumbuhan fisik remaja ---dampaknya menstruasi semakin cepat datangnya . Sementara dari segi psikis mereka perlu dampingan dalam menjelaskan perilaku seksual yang ada di sekitar mereka .
2. Tersedianya media porno ----penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media elektronik , media massa semakin mudah untuk diakses . Sementara pengetahuan tentang seksualitas ini hampir tidak pernah secara lengkap diperoleh anak dari orang tua. Umumnya mereka mendapatkan informasi dari teman , melihat atau membaca .
3. Pergeseran norma sosial ----perilaku remaja dalam pacaran saat ini semakin permisive walaupun hal ini erat kaitannya dengan pandangan atau nilai-nilai masyarakat itu sendiri terhadap seks. Misal masalah keperawanan , namun dalam kenyataannya kadang amat bertentangan.
4. Longgarnya komunikasi dengan orang tua --- kenyataan yang ada , komunikasi antara anak dengan orang tua cenderung menggurui , menyalahkan dan menganggap orang tua yang lebih tahu . Padahal komunikasi yang diharapkan oleh remaja adalah kesejajaran , dialogis .
5. Tabu membicarakan seks ---- membicarakan seks sering menimbulkan perasaan yang negatif misal seks adalah sesuatu yang kotor dan tidak pantas untuk dibicarakan . Hal ini disebabkan seks selalu dikonotasikan dengan hubungan kelamin, sesuatu yang tabu dan tidak baik untuk dipertanyakan dan seks hanya konsumsinya orang dewasa saja dan remaja tidak perlu membicarakan atau mengetahuinya.
Kesimpulan
Dari gambaran penjelasan dan kasus di atas, apa benar kalau kita menyalahkan remaja atas perbuatannya ? , atau orang tua , sekolah , lingkungan pergaulannya yang terlalu bebas , arus informasi yang semakin transparan sehingga meracuni jiwa remaja . Sebenarnya kita semua mulai instrospeksi diri dan mulai menata diri untuk mendukung remaja , agar dia bisa menjadi remaja yang bertanggung jawab bagi dirinya sendiri , keluarga , lingkungan dan Tuhannya.
Seandainya proses komunikasi orang tua terhadap anak mulai tersumbat , apakakah hal ini akan menjamin perilaku seksual anak kita . Demikian pula bila keadaan rumah tangga kita diwarnai dengan pertengkaran dan konflik apakah si remaja akan bisa betah berada di rumah . Dengan kondisi seperti ini apakah kita sebagai orang tua bisa meluangkan waktu untuk memberikan perhatian , semangat , dan kontrol yang proporsional terhadap perilaku anak kita yang sudah menginjak dewasa ini agar tidak terjerumus pada perilaku seks yang menyimpang yang semakin marak dibicarakan—diseminarkan ?.
Untuk itu diperlukan peran serta semua pihak , dari dalam keluarga , unsur-unsur pemerintah maupun non pemerintah serta orang-orang peduli dengan permasalahan remaja . Dan bagaimana bentuk dan cara untuk mengantisipasi dan mengatasi kondisi ini ? Jawabannya akan kita dapatkan dalam diskusi pada hari ini . Mudah-mudahan rumusan / jawaban yang diperoleh dalam seminar sehari ini bisa menjadi bahan renungan / introspeksi bagi kita semua sebagai media untuk menata sikap kita yang lebih baik dan bertanggung jawab . Amien.
Banjarmasin , 11 Juni 2000
REFERENSI
Citra Mitra Ramaja PKBI Daerah Kal-Sel. Catatan kasus 1996 s/d 2000. Banjarmasin.
Imran, Irawati. Perkembangan Seksualitas Remaja. Jakarta : Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia , Bekerja sama dengan UNFPA
Sarlito w, s. Psikologi Ramaja. Jakarta.PT.Raja Grafindo Persada.
Sahabat Remaja , PKBI DIY. Panduan Ceramah Perkembangan Seksualitas Manusia. Yogyakarta.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar